Berdasarkan Bank Umum sedikit mengalami peningkatan selama periode

Berdasarkan data dari tabel 1.1 diatas, menunjukkan aset bank umum periode 2012-2016 mengalami pertumbuhan
36,45% dari Rp4.115 triliun (2012) menjadi Rp6.475 triliun (2016), dengan
rata-rata pertumbuhan 10,79% per tahun. Peningkatan aset bank umum juga diikuti
peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh sebesar 31,71% menjadi Rp4.837
triliun (2016) dengan rata-rata pertumbuhan 10,39% per tahun. Net Interest Margin (NIM) bank umum
selama periode 2012-2016 fluktuatif, dari sebelumnya 5,49% (2012) menjadi 6,83% (2016)
meskipun tahun 2013-2015 mengalami penurunan. Penurunan ini disebabkan oleh
faktor likuiditas yang ketat dan menurunnya prospek bisnis sehingga bank
cenderung defensive dalam
menjalanakan bisnisnya. Kombinasi perlambatan pertumbuhan ekonomi dan
likuiditas yang ketat memaksa bank untuk mengurangi penyaluran kreditnya.
Resiko kredit juga menjadi rem dalam penyaluran kredit agar kualitas asset
produktif tetap terjaga (www.bisnis.com). Terjadi peningkatan BOPO Bank Umum selama periode 2012 – 2016, di mana
pada 2012 BOPO berada pada posisi 74,10% dan pada 2016 meningkat menjadi
82,22%.

          Tingkat
Kesehatan Bank Umum selama periode 2012 – 2016 cukup terjaga dengan baik,
tercermin dari CAR dan NPL yang masih dalam rentang yang sehat. Tingkat
Kecukupan Modal (Capital Adequacy Ratio/CAR)
selama periode 2012 – 2016 mengalami peningkatan dari 17,43% (2012) menjadi
22,93% (2016). Nilai CAR ini jauh di atas ambang batas minimal yang diatur
dalam peraturan yaitu sebesar 8%. Non Performing
Loan (NPL) Bank Umum sedikit mengalami peningkatan selama periode 2012 –
2016. Namun demikian peningkatan tersebut masih dibawah threshold yaitu sebesar 5%. NPL
gross mengalami peningkatan dari 1,85% (2012) menjadi 2,93% (2016).
Sementara itu, NPL net sedikit mengalami peningkatan dari 0,89% (2012) menjadi
1,24% (2016). Peningkatan NPL itu sejalan dengan perlambatan penyaluran kredit
perbankan yang tumbuh sebesar 10,26% dari Oktober 2014.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

             Beberapa rasio profitabilitas yang sering digunakan yaitu ROA (Return On Asset), ROE (Return On Equit), EPS (Earning Per Share),
NPM (Net Profit Margin), GPM (Gross Profit Margin) dan sebagainya. Bagi
investor informasi tentang ROA, ROE dan EPS menjadi kebutuhan yang sangat
mendasar dalam kebutuhan pengambilan keputusan. Informasi tersebut dapat
mengurangi ketidakpastian dan resiko yang mungkin terjadi, sehingga keputusan
yang diambil diharapkan akan sesuai dengan tujuan yang diinginkan.

          Return On Asset (ROA) menurut Simatupang (2010: 55) adalah rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan
untuk menghasilkan laba dari modal sendiri yang dimilikinya. Pada umumnya
semakin tinggi rasio ini semakin tinggi harga sahamnya.

          Menurut Kasmir (2011: 204) hasil pengembalian atas ekuitas atau Return On Equity (ROE) atau rentabilitas modal sendiri
merupakan rasio untuk mengukur laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri.
Rasio ini menunjukan efisiensi penggunaan modal sendiri. Semakin tinggi rasio
ini, semakin baik. Artinya posisi pemilik perusaan semakin kuat, demikian pula
sebaliknya. ROE yang tinggi mencerminkan bahwa perusahaan berhasil menghasilkan
keuntungan dari modalnya sendiri. ROE yang semakin tinggi akan menyebabkan
semakin tinggi pula harga saham, besarnya ROE menunjukkan tingkat pengembalian
yang akan diterima investor. Semakin tinggi ROE maka semakin tinggi juga return yang akan diterima investor akan
tinggi, sehingga investor akan tertarik untuk membeli saham perusahaan dan hal
ini akan menyebabkan harga pasar saham cenderung naik.

          Earning
per share (EPS) adalah
bentuk pemberian keunutngan yang diberikan kepada para pemegang saham dari
setiap lembar saham yang dimilikinya (Fahmi, 2015: 93). Informasi EPS suatu perusahaan menunjukkan besarnya
laba bersih perusahaan yang siap dibagikan bagi semua pemegang saham
perusahaan. Apabila earnings per share
(EPS) perusahaan tinggi, akan semakin banyak investor yang mau membeli saham
tersebut sehingga menyebabkan harga saham akan tinggi.